Thursday, December 24, 2009

Album Joe Satriani yang Makin Matang



TEMPO Interaktif
, Jakarta:
Professor Satchafunkilus and the Musterion of Rock
Joe Satriani
Epic, 2008

Gitaris Joe Satriani sudah menempuh periode selama 21 tahun sejak pertama kali masuk dunia rekaman. Sampai dua tahun lalu dia telah mengoleksi 11 album dalam diskografinya. Jika album-album itu disimak secara kronologis, siapa pun akan sulit menepis bahwa Surfing with the Alien, yang dirilis pada 1987, adalah album terbaiknya. Atau, setidaknya, inilah satu dari sedikit saja album instrumental rock yang bisa mendarat di daftar Top 40.

Walau begitu, sebenarnya, mesti diakui pula tak satu pun dari album-album Satriani lainnya yang bisa dibilang buruk. Masing-masing, meski rentang variasinya tak lebar-lebar amat, punya kelebihan dan kekurangan dalam bobot tertentu. Kesamaannya: selalu ada komposisi yang melodinya meresap ke dalam memori pendengarnya.

Album berjudul heboh ini termasuk di antara kelompok yang lain itu. Justru di sini, terasa benar bedanya dengan apa yang telah dilakukan Satriani sebelumnya. Gitaris yang sempat menjadi guru bagi gitaris-gitaris seperti Kirk Hammett (Metallica), David Bryson (Counting Crows), dan Alex Skolnick (Testament) ini terdengar seperti sudah tak perlu lagi membuktikan betapa lengkapnya teknik bermain yang ia miliki. Atau, betapa cepat dia bisa meniti rangkaian not, melompati deretan fret, seolah melumerkan papan nada gitarnya. Dia lebih berfokus pada seni menciptakan harmoni, membuat komposisi yang memikat.

Satriani sudah memulai hal itu di, setidaknya, dua album terdahulu. Tapi di sini dia terasa semakin matang. Dan bonusnya: dia masih sanggup melakukan apa yang telah dilakukannya sejauh ini, memadukan virtuositas dengan melodi yang sanggup mengundang orang untuk ikut menyanyikannya. Cobalah simak Come on Baby nan bluesy, Diddle-Y-A-Doo-Dat yang memadukan jazz dan funk, serta Andalusia yang berbumbu flamenco.

Tentu saja, ada yang lain lagi, dan juga ada yang mestinya disisihkan saja untuk kelak jika ada niat merilis berbagai track yang belum pernah dipublikasikan, yakni Professor Satchafunkilus dan--terutama --I Just Wanna Rock. Tapi, secara keseluruhan, album ini tetap pantas disandingkan di tempat yang sama dengan album-album Satriani lainnya.

by: Aryo

Berkat YouTube Joe Satriani pun Menjadi Pengiring Solo Gitar Jeong-Hyun Lim



Joe Satriani bukanlah nama yang asing lagi di kalangan musisi. Banyak yang menyebutnya sebagai salah satu gitaris terbaik dunia. Bahkan Steve Vai (salah satu gitaris terbaik dunia juga) pada mulanya berguru pada Joe Satriani.

Jeong-Hyun Lim (seorang warga negara Korea Selatan). Ada yang tahu nama ini? Kalau anda mungkin kebetulan pernah dengar, atau melihat video solo gitar Canon D’ Rock dengan nickname funtwo, nah dialah pria yang memainkan solo gitar dalam video di YouTube tersebut. Bahkan video tersebut termasuk dalam 10 video terfavorit di YouTube hingga saat ini. *Canon D’Rock versi aslinya dibuat oleh Jerry Chang (Seorang warga negara Taiwan. Dia memberikan tablatur gitar Canon D’Rock untuk di download bebas).*

Semasa masih getol bergitar ria (*waktu masih bercita – cita jadi musisi), saya sudah banyak melihat video konser Joe Satriani, video tutorialnya, maupun video wawancaranya. Tapi seumur – umur saya belum pernah lihat Joe Satriani full jadi pengiring solo gitar gitaris lain (yang bukan “selevel” dia).

Tapi itulah yang terjadi pada acara YouTube Live 22 November 2008 lalu. Joe Satriani membawakan sedikit potongan lagunya, “Satch Boogie”. Setelah itu langsung disambung dengan potongan hits lainnya, “Surfing With The Alien”, tetapi kali ini berduet dengan Jeong Lim. Dan ini disambung lagi dengan lagu ketiga, “Canon D’Rock”. Di lagu ini Jeong Lim jadi lead gitar, dan Joe Satriani “cuma” jadi pengiringnya (rythem) (!).

Ya.. pengiring.. Pada awalnya saya mengira nantinya akan ada sesi Joe bergantian memainkan lead guitar. Ternyata tidak. Sampai selesai tetap Jeong Lim yang menjadi lead guitar. Wow..!

Lihat.., Jeong Lim yang tadinya bukanlah siapa – siapa di kalangan gitaris sedunia, tiba – tiba dengan munculnya videonya di YouTube, mendapatkan kesempatan solo gitar sepanggung dengan Joe Satriani, bahkan Joe yang menjadi pengiringnya. Hey.. ini dia efek Web 2.0 !

Video ini sangat fenomenal, hingga New York Times melakukan liputan khusus tentang video ini.

Lalu mengapa bukan Jerry Chang yang didaulat sepanggung dengan Joe Satriani? Entahlah saya sendiri heran. Bagi saya permainan gitar Jerry Chang lebih menarik, lebih indah, dan lebih bersih ketimbang permainan Lim. Sewaktu dia sepanggung dengan Joe Satriani pun saya melihat terjadi beberapa kesalahan. Tapi mungkin saja alasannya sederhana. Video versi Lim sudah dilihat lebih dari 52juta kali, sedangkan video Chang “hanya” sekitar 4jutaan. Chang sendiri bukan berarti tidak mendapat apa – apa. Dia mendapat kontrak dengan salah satu label rekaman, dan cukup sukses juga akibat fenomena ini.

Di Indonesia juga banyak hal – hal sensional di dunia online yang cukup berpengaruh besar, hingga media – media konvensional pun meliputnya. Sayangnya sejauh yang saya lihat, hanya terbatas pada hal – hal sensasional negatif


by: Aryo

Coldplay Bantah Jiplak Joe Satriani



Band rock asal Inggris, Coldplay, akhirnya merasa perlu untuk membantah keras berita yang mengatakan bahwa lagu Viva La Vida itu menjiplak lagu milik gitaris legendaris Joe Satriani. Mereka bersikeras bahwa kesamaan di antara dua lagu itu hanyalah kebetulan saja.

Satriani telah mengajukan tuntutan hukum di pengadilan federal Los Angeles minggu lalu (04/12). Dia mengklaim bahwa pencetak hit Yellow itu meniru beberapa bagian dari instrumentalnya yang dirilisnya 2004 silam, If I Could Fly.

Musisi legendaris itu meminta ganti rugi dan bagian keuntungan dari Viva La Vida. Dia mengklaim bahwa dirinya merasa sangat terkejut saat pertama kali mendengar lagu tersebut.

"Aku merasa hatiku tertusuk pisau. Sangat menyakitkan. Kedua kalinya aku mendengarnya, aku tahu itu adalah If I Could Fly," kata Satriani.

Namun band Chris Martin itu menolak tuntutan tersebut dalam sebuah pernyataan di TMZ.com.

"Dengan sangat hormat pada Joe Satriani, kami sayangnya akhirnya harus menjawab tuntutannya. Jika memang ada kesamaan antara dua lagu tersebut, mereka benar-benar tidak disengaja. Dan sama mengejutkannya bagi kami seperti buatnya. Joe Satriani adalah musisi yang hebat, namun dia tidak menulis Viva La Vida. Kami dengan hormat memintanya menerima keyakinan kami tentang hal ini dan berharap dia akan baik-baik saja. Coldplay."


by: Aryo

KATA SAMBUTAN


Alhamdulillah…….

Salah satu upaya untuk melengkapi sumber informasi yang relevan dan

bermakna guna meningkatkan mutu pendidikan dan skil, kami

mempublikasikan website pembelajaran dan informasi juga forum tukar pendapat.

Wab ini disusun berdasarkan kebutuhan pembaca yg semakin kritis, dan berdasarkan kriteria informasi yang dikembangkan oleh Badan Standar Wabsite Nasional. wab ini merupakan penyempurnaan dari bahan informasi kontekstual yang telah dikembangkan banyak wab dalam kaitannya dengan kegiatan proyek peningkatan mutu skil pengguna wab. Bahan informasi tersebut telah diujicobakan ke sejumlah groub dan forum komunikasi, diseluruh indonesia sejak tahun 2001. Penyempurnaan informasi yang bernuansa pendekatan kontekstual dilakukan oleh para pakar dari beberapa perguruan tinggi, webmaster, dan instruktur yang berpengalaman di bidangnya. Validasi oleh para pakar dan praktisi serta uji coba empiris ke pengguna wab telah dilakukan guna meningkatkan kesesuaian dan keterbatasan informasi.

Wab ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pemantauan wabsite, dan dinyatakan memenuhi syarat untuk digunakan sebagai pusat pembelajaran dan tukar informasi. Pengguna wab diharapkan dapat memanfaatkan wabsite ini dengan sebaik-baiknya sehingga dapat meningkatkan efektivitas, kebermaknaan, pembelajaran dan kebersamaan sesama pengguna wab. Pada akhirnya, para pengguna diharapkan dapat memahami semua informasi.

Dasar secara lebih mendalam, luas serta bermakna, kemudian dapat

mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saran perbaikan untuk penyempurnaan wabsite ini sangat

diharapkan. Terimakasih setulus-tulusnya disampaikan kepada para penulis

yang telah berkontribusi dalam penyusunan wabsite ini, baik pada

saat awal pengembangan bahan, ujicoba terbatas, maupun

penyempurnaan sehingga dapat tersusunnya wabsite ini.

Terimakasih dan penghargaan juga disampaikan kepada semua pihak

yang telah membantu terwujudnya penerbitan wabsite ini.tq

Tuban, Desember 2009


wabmaster.


Aryo tjo